UPS (Uninterruptible Power Supply) merupakan sistem catu daya cadangan yang menyediakan energi listrik cukup memadai agar peralatan dapat dimatikan secara normal dalam situasi mati listrik mendadak. Fungsi ini sangat penting bagi perorangan maupun perusahaan, karena dapat mencegah terjadinya kehilangan data. Selain itu, UPS juga memproteksi perangkat keras dari volatilitas daya yang dapat merusak peralatan elektronika.
Ketika listrik mati, UPS akan langsung menyalakan daya baterai sebagai sumber energi cadangan untuk berbagai perangkat elektronik kita. Akan tetapi, terdapat beberapa jenis UPS dengan kapabilitas beragam. Tingkatan proteksi yang diberikan oleh setiap jenis UPS pun berbeda-beda. Hal ini sering menimbulkan kebingungan tentang bagaimana cara memastikan kita beli UPS yang cocok sesuai kebutuhan?
Untuk memecahkannya, ada beberapa pertanyaan yang perlu masuk dalam checklist saat akan membeli UPS:
Berapa besar daya yang dibutuhkan oleh peralatan Anda?
Untuk mengestimasikan kebutuhan daya, hitung total watt semua perangkat yang akan dihubungkan dengan UPS. Pilih UPS dengan kapasitas output watt 20-25 persen lebih tinggi dari total tersebut.
Berapa lama runtime UPS yang diperlukan?
Runtime merujuk berapa lama daya mampu disediakan oleh UPS untuk semua perangkat terhubung ketika listrik mati. Semakin besar kapasitas daya yang dibutuhkan oleh perangkat terhubung, maka makin singkat-lah runtime UPS. Untuk memperpanjang runtime, maka Anda harus mengurangi jumlah perangkat terhubung. Alternatif lain, beli UPS yang dapat dipasangi baterai eksternal agar sewaktu-waktu bisa memperpanjang runtime.
Berapa banyak stop kontak yang dibutuhkan?
Pastikan UPS memiliki jumlah stop kontak memadai untuk menampung semua perangkat yang akan dihubungkan.
Apakah Anda membutuhkan Data Line Protection?
Kabel data dan audio/video yang terhubung bisa menjadi “backdoor” yang mengakibatkan lonjakan tegangan merusak bagi komponen elektronik sensitif. Oleh karena itu, pilihlah sistem UPS yang memiliki port RJ11, RJ45, atau konektor koaksial untuk mencegah terjadinya lonjakan pada telepon, jaringan, atau kabel koaksial.
Dimana Anda berencana memasang sistem UPS?
UPS terdiri dari beberapa model. Tiga model paling populer adalah model Desktop, Tower, dan Rack-mount. Model Desktop sangat ringkas, bisa disembunyikan di bawah meja. Model Tower biasanya dirancang ramping agar tampil atraktif di atas meja atau di rak. Sedangkan model Rack-mount membutuhkan ruang lebih luas dan biasanya diletakkan di ruang server.
Tipe sistem UPS apa yang dibutuhkan?
Ada tiga tipe UPS berdasarkan proteksi daya yang disediakannya, yaitu Standby, Line-Interactive, dan Double-Conversion. Setiap tipe mampu menangani masalah berbeda-beda.
Tipe Standby sudah cukup memadai untuk mengatasi lonjakan tegangan serta mati listrik total (blackout) dan mati listrik parsial (brownout). Tipe Line-Interactive dapat menangani ketiga masalah tadi ditambah situasi fluktuasi voltase drastis. Tipe Double Conversion lebih tangguh lagi, mampu mengatasi lonjakan tegangan, blackout, brownout, fluktuasi voltase, variasi frekuensi, dan distorsi harmonisa.
Demikianlah beberapa pertimbangan penting sebelum membeli UPS. Masih bingung mengenai tipe mana yang cocok untuk kebutuhan Anda? Tak usah khawatir, ada layanan konsultasi beli UPS Surabaya yang dapat membantu sejak assessment, budgeting, implementasi, hingga perawatan power supply.
